Wednesday, August 30, 2006

DSS-Apakah gaul itu?

Halooo, hari ini gw pon lagee.. Abis sekolah ga ada gunanya n satu2nya pelajaran yang berguna diajar sama guru setan, yang bikin gw naik darah n pengen tidur.. Hehe, jadi ngapain tidur di sekolah, mendingan tidur di kamar, empuk ga keras kaya' di kelas, bisa pegel2 setelah tidur..

On to the DSS...
(Diskusi ini dilakukan oleh gw & Rahardhi kemaren abis pulang sekolah dalam perjalanan kita menuju National Library)

Sebagai orang Indon sering kita menggunakan kata gaul. Karena kita orang gaul, apabila kita memakai kata gaul tentu yang dimaksud adalah arti gaulnya. Kita sering mendengar pernyataan," Tu orang gaul abis...", "Anjing, bajunya gaul amat..", "Bangsat, tu rambut die gaul mampus..", "Babi kampret, gaul banget kata2 lu...", "Tikus ngepet, tu orang sok gaul abis sih...", dst.

Kata ini memang benar2 versatile dan bisa digunakan hampir untuk apa saja. Tapi apakah gaul itu? Siapakah yang menentukan seseorang atau sesuatu itu gaul?

Menyatakan sesuatu itu gaul adalah bentuk demokrasi mendasar yang digunakan oleh rakyat akar rumput seperti kita. Dalam hal ini, kita sebenarnya secara sadar atau tidak, mengamalkan salah satu prinsip demokrasi, yaitu mencapai suatu konsensus mengenai sesuatu yang disetujui oleh kebanyakan orang di dalam kelompok kita. Sesuatu hanya akan bisa dikatakan sebagai gaul bila lebih banyak orang mengatakan itu gaul, sementara minoritas orang yang tidak setuju akan dianggap beda dan tidak gaul.

Karena gaul ditentukan oleh suatu konsensus, itulah mengapa gaul tidak statis dan sungguh dinamis. Pendapat orang berubah2 setiap saat, dan konsensus yang mereka terima ikut berganti dengan dinamika yang konstan, ibaratnya seperti air di sungai yang selalu berganti tetapi tetap ada.

Inilah juga mengapa sesuatu yang baru akan mudah untuk dianggap sebagai hal yang gaul.
Manusia sungguhlah makhluk yang cepat bosan, dan menginginkan hal baru mengisi hidupnya. Karena itu, oleh bandwagon effect, banyak dari kita yang ingin mengikuti sesuatu yang baru itu, dan karena banyak, mereka dapat menentukan bahwa sesuatu itu gaul.

Mungkin ada dari kita yang akan berkata,"Tapi itu hanya bisa menjelaskan mereka2 yang konformis dan kerjanya cuma ngikutin orang2, tanpa punya pendiriannya sendiri.."
Orang2 yang menanyakan ini adalah orang yang beda, selalu ingin tampil beda karena mereka ingin tampil istimewa dibandingkan yang lain.

Ada 2 jenis orang seperti ini, pertama adalah orang2 yang "kalah" dalam konsensus, sama seperti di pemerintahan demokratis, akan selalu ada pihak minoritas yang menjadi oposisi pihak berkuasa. Mereka membentuk suatu kelompok tersendiri yang memiliki aturan sendiri tentang apa yang gaul itu. Ini juga berarti mereka mengadakan konsensus lagi dalam kelompok mereka.

Kedua adalah orang yang ingin tampil beda for the sake for being different.. Mereka menganggap berlaku beda adalah suatu yang gaul. Tapi kenapa mereka bisa menganggap itu gaul? Itu tidak datang dari diri kita sendiri, melainkan karena ada jumlah yang cukup besar untuk berpikiran yang sama. Jadi walaupun mereka menganggap tidak memiliki suatu kelompok, secara tidak sadar mereka telah membentuk suatu kolektif orang-orang istimewa, yang lagi2 memiliki aturan sendiri tentang gaul, entah mereka sadar atau tidak.

Ini pendapat gw dan Rahardhi, semoga bisa membuat pembaca lebih terbuka pikirannya, kalau ada komentar silakan, jangan malu2.

Sekarang mau main Dota dulu ama Tamojoy

No comments: